Berisi informasi tentang museum-museum di Jakarta, Kawasan Kotatua, dan Jakarta Tempo Doeloe

Kamis, 25 Februari 2010

Museum Bahari


Gedung Museum Bahari semula adalah gudang penyimpanan rempah-rempah. VOC membangun gedung ini secara bertahap sejak 1652 hingga 1759. Pada 1976 kompleks gedung ini diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta yang kemudian dipersiapkan sebagai sebuah museum. Museum Bahari diresmikan pemakaiannya pada 7 Juli 1977.

Museum Bahari bertugas melestarikan, memelihara, merawat, dan menyajikan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan kehidupan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia. Jumlah koleksinya sekitar 1835 buah.

Secara tematik, tata pamer koleksi dan informasi terbagi ke dalam sejumlah pembagian ruang, yaitu:

1. Ruang Masyarakat Nelayan Indonesia
Koleksi yang dipamerkan: miniatur kapal dan peralatan kenelayanan.

2. Ruang Teknologi Menangkap Ikan
Koleksi yang dipamerkan: pancing, bubu, dan jaring.

3. Ruang Teknologi Pembuatan Kapal Tradisional
Koleksi yang dipamerkan: teknologi dan sentra pembuatan kapal.

4. Ruang Biota Laut
Koleksi yang dipamerkan: aneka jenis ikan, kerang, tumbuhan laut, dan dugong.

5. Ruang Pelabuhan Jakarta 1800-2000 (Pusat Perdagangan Dunia)
Koleksi yang dipamerkan: artefak-artefak yang berhubungan dengan kesejarahan pelabuhan di Jakarta pada rentang tersebut, termasuk meriam, keramik, dan benteng.

6. Ruang Navigasi
Koleksi yang dipamerkan: kompas, teleskop, dan sejumlah alat bantu navigasi.

7. Pelayaran Kapal Uap Indonesia-Eropa
Koleksi yang dipamerkan: foto-foto dokumentasi mengenai pelayaran kapal uap pertama dari Eropa ke Asia.


Alamat

Jalan Pasar Ikan No. 1
Jakarta Utara
Telepon 021-669-3406 dan 021-669-2476


Jam Buka
Selasa - Minggu09.00 - 15.00
Senin & Hari libur nasionalTutup


Karcis masuk

Perorangan:
Dewasa
Rp 2.000
Pelajar/MahasiswaRp 1.000
Anak-anakRp 1.000


Rombongan (minimal 20 orang):
Dewasa
Rp 1.500
Pelajar/MahasiswaRp 750
Anak-anakRp 500


Tarif pemandu untuk Bahasa Indonesia Rp 25.000
Tarif pemandu untuk Bahasa Belanda atau Bahasa Inggris Rp 50.000


Koleksi Museum


Peta Lokasi Museum




Museum Sejarah Jakarta


Sejarah Museum


Bangunan Museum Sejarah Jakarta sudah cukup tua. Pada waktu penyerbuan pasukan Sultan Agung dari Mataram atas Benteng VOC di Batavia pada 1628, gedung ini terbakar.

Menurut prasasti yang terdapat di sana, gedung ini pernah dipugar pada 1707 dan 1710. Bentuk itulah yang sampai sekarang masih bertahan.

Di kalangan masyarakat gedung ini dikenal sebagai Gedung Bicara. Fungsinya adalah sebagai tempat pengadilan, sebagaimana terlihat adanya kamar-kamar tahanan di bagian belakang, depan, dan samping. Konon di sini pernah dilakukan pelaksanaan hukuman gantung.

Pada masa kemudian, gedung ini menjadi Balai Kota atau Stadhuis yang ditempati oleh Gubernur Jendral. Untuk menghormati Fatahillah, yang berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kalapa, maka di depan Museum Sejarah Jakarta dibuatkan taman yang diberi nama Taman Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta sendiri sering disebut Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta memamerkan berbagai macam koleksi tentang kepurbakalaan dan sejarah Jakarta hingga zaman kemerdekaan.


Alamat
Jalan Taman Fatahillah 1, Jakarta 11110
Telepon +62 21 692-9101



Jam Buka

Selasa - Minggu09.00 - 15.00
Senin & Hari Libur NasionalTutup


Karcis Masuk
DewasaRp 2.000
MahasiswaRp 1.000
Anak-anakRp 600


Koleksi Museum Sejarah Jakarta



Peta Lokasi Museum
Catatan: Museum Sejarah Jakarta = Museum Fatahillah

Museum Wayang


Gedung Museum Wayang telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Lama Belanda), dibangun pertama kali pada 1640. Pada 1732 diperbaiki dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga 1808. Pada tahun yang sama bangunan ini hancur oleh gempa bumi. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung baru, yang sekarang menjadi Museum Wayang. Pemakaiannya sebagai museum diresmikan pada 13 Agustus 1975.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, yang terbuat dari kayu, kulit, dan bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Tiongkok dan Kamboja. Hingga kini Museum Wayang mengoleksi lebih dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa, meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India, dan Kolombia.

Secara periodik Museum Wayang menyelenggarakan pagelaran wayang pada minggu ke-2 dan ke-3 setiap bulan.

Alamat
Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27-29
Jakarta 11110
Telepon (021) 692-9560


Jam Buka
Selasa - Minggu09.00 - 15.00
Senin & Hari libur nasionalTutup


Karcis Masuk
DewasaRp 2.000
MahasiswaRp 1.000
Anak-anakRp 600


Koleksi Museum


Kamis, 28 Januari 2010

Tarik Peminat, Museum Bisa Buka Waktu Kunjungan Hingga Malam


Jakarta - Mengunjungi museum pada siang hari sih sudah biasa. Tapi pernahkah Anda membayangkan datang ke museum pada malam hari? Tentu akan menjadi pengalaman yang unik.

Pengalaman unik ini bisa jadi menyedot minat banyak orang untuk berkunjung. Tentu saja, hal itu merupakan terobosan yang pantas untuk dicoba, mengingat saat ini minat masyarakat untuk mengunjungi museum masih minim. "Dengan membuka museum sampai malam, maka masyarakat bisa lebih fleksibel datang ke museum," kata Ketua Masyarakat Historia Indonesia Asep Kambali dalam diskusi publik di Kedai Tempo, Jl Utan Kayu, Jakarta Timur, Jumat (29/6/2007).

Asep mengatakan, selain membuka museum pada malam hari, ada baiknya jika dibuat program-program khusus yang dapat menarik masyarakat, khususnya kaum muda. "Saya pernah membuat acara wisata malam di Museum Bahari. Ternyata acara itu sangat diminati para eksekutif muda, sehingga saya membatasi peserta hanya 50 orang," imbuh dia.

Kegiatan tersebut diminati lantaran dikemas dengan menarik dan ada unsur anehnya. "Justru yang aneh-aneh semacam itu yang membuat orang jadi ingin tahu. Dengan berkunjung ke museum malam hari, gelap, itu akan cukup menantang bagi kaum muda," terang Asep. Kegiatan semacam itu menurut dia sedang menjadi tren di luar negeri. Jadi, lanjut Asep, tidak ada salahnya jika pengelola museum atau pemda meniru kegiatan-kegiatan tersebut.

Di Jakarta ada sedikitnya 66 museum dan sekitar 100 galeri. Dari 66 museum itu, 8 di antaranya dikelola Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI. Sebuah survei independen tahun 2005 menyebutkan, museum menempati urutan paling bontot sebagai tempat yang diminati warga saat berlibur, khususnya orang-orang muda.

Bahkan selama 15 hari, hanya 18 museum yang mendapat kunjungan, itu pun tidak banyak. Pemerhati museum Nina Akbar Tandjung mengatakan, keadaan museum di Jakarta kesannya tempat yang gelap, membosankan, pengap, dan kurang menarik. Kalau mau menarik lebih banyak pengunjung, maka kesan itu harus diubah.

"Untuk mengubah itu, tidak harus dengan biaya besar, tapi bisa dengan membuat event khusus di hari khusus," cetusnya. Misalnya, pada saat 100 tahun Sisingamaradja, maka benda-benda peninggalannya dipajang di depan museum. "Ada baiknya juga anak-anak sekolah diberi tugas yang informasinya didapat dari museum. Dengan begitu, maka anak-anak mau mengunjungi museum," tukas Nina. (nvt/sss)

(detiknews.com)

Museum Tekstil Dapat Sumbangan Kain Bersejarah


Jakarta - Museum Tekstil Jakarta mendapat sumbangan kain batik dan kebaya khas Betawi bernilai sejarah tinggi. Kain-kain ini sudah berusia lebih dari 50 tahun. Diharapkan sumbangan ini bermanfaat bagi museum itu untuk mempresentasikan koleksi-koleksinya.

"Nilai koleksi dari kain batik dan kebaya khas Betawi sangat berharga karena sudah berusia lebih dari 50 tahun," ujar Kepala Seksi Edukasi dan Pameran Museum Tekstil Jakarta, Edi Hartoyo, kepada detikcom, di kantornya, Jl KS Tubun, Jakarta Barat, Kamis (8/1/2009).

Menurut Edi, dengan adanya sumbangan ini, koleksi di Museum Tekstil akan semakin beragam dan memiliki daya tarik tersendiri. "Porsi jadi lebih banyak, koleksi juga bertambah," imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Arie Budhiman mengapresiasi langkah masyarakat yang ingin menyumbangkan koleksinya ke Museum Tekstil.

"Ini sangat mendukung tugas dan fungsi Museum Tekstil Jakarta sebagai salah satu lembaga pelestari budaya tekstil tradisional Indonesia," jelasnya.

Museum Tekstil Jakarta mendapat sumbangan kain batik dan kebaya khas betawi bernilai sejarah tinggi dari Yayasan Sirih Nanas.(did/nik)

(detiknews.com)

Kontak

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):